Menjaga Mental Health Anak



Oleh Sri Purwanti, A.Md.K.L.
(Founder Rumah Baca Cahaya Ilmu)

RuangInspirasiBunda.Com-Menjaga kesehatan mental anak sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Tapi sayangnya, banyak orang tua kurang memperhatikan aspek tumbuh kembang psikologis anak. Khususnya yang berkaitan dengan kesehatan mentalnya.
Padahal masalah ini telah mempengaruhi anak-anak dan remaja seperti depresi, kecemasan dan gangguan perilaku yang seringkali memberikan respon langsung terhadap apa yang terjadi dalam hidup mereka.

Oleh karena itu sebagai seorang Muslim kita diperintahkan agar bersikap adil kepada anak-anaknya dalam hal pemberian maupun interaksi dan perlakuan yang mencerminkan rasa kasih sayang, sehingga bisa menjadi kestabilan mentalnya.

Mengapa kesehatan mental anak menjadi hal penting yang harus diperhatikan? Karena kesehatan mental yang baik dan terjaga akan mempengaruhi kemampuan mereka dalam berpikir jernih, berkonsentrasi, dan bisa berkembang lebih baik secara sosial sehingga oebih mudah mempelajari keterampilan baru. 

Orang terdekat, seperti orang tua, guru dan teman memiliki peran penting untuk membantu anak dalam mengembangkan rasa percaya diri, harga diri dan pandangan emosional yang sehat tentang kehidupan.

Dilansir dari laman Positive Psychology, menurut WHO, sebanyak 10 sampai 20 persen anak-anak dan remaja mengalami gangguan mental.
Sebanyak 50 persen dari semua penyakit mental di mulai pada usia 14 tahun. Sementara itu, sebanyak 75 persen terjadi pada pertengahan usia 20-an.

Lalu bagaimana caranya agar anak-anak memiliki mental health yang baik? 

Pertama tanamkan keimanan kepada Allah, sehingga anak merasa yakin segala sesuatu yang terjadi atas izin dari Sang Pencipta. Dengan begitu mereka akan terlatih menerima semua kondisi dengan ikhlas. Sebagaimana firman-Nya: " Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui." (TQS Al-Baqarah:216)

Kedua dengan memberikan kasih sayang tanpa syarat kepada anak.
Rasa cinta, perasaan aman dan perasaan diterima harus senantiasa ditanamkan agar anak bisa tumbuh dengan baik. Orang tua harus bisa menerima semua kekurangan pada anak. Kesalahan, kekalahan yang mereka alami harus mendapatkan penerimaan, sehingga muncul keyakinan dalam diri anak bahwa mereka dicintai tanpa syarat.

Ketiga, memperkuat ikatan antara orang tua dengan anak. Kita harus siap mendengarkan keluh-kesah anak, mendukung semua aktivitasnya sehingga bisa membangun ikatan emosional antara anak dan orang tua. Hal ini akan menumbuhkan kepercayaan pada anak sehingga mereka merasa aman ketika mengeluarkan keluh-kesah. Sehingga anak tidak memendam semua masalahnya sendirian.

Saat anak mengalami masalah dan kesulitan, orang tua bisa memberikan kesempatan untuk menyampaikan apa yang ia rasakan. Selanjutnya, motivasi anak untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan cara yang bijak. Sehingga anak akan belajar untuk menyelesaikan masalahnya. Dengan begitu mereka akan terbentuk menjadi anak yang tangguh ketika menghadapi masalahnya.

Keempat, membiasakan anak untuk mandiri. Hal ini penting ditanamkan sejak dini agar anak bisa belajar bertanggung jawab, membuat keputusan sendiri, dan memahami apa yang ia inginkan. Akan yang terbiasa mandiri akan terlatih mental healthnya menjadi lebih tangguh.

Orang tua bisa melatih kemandirian anak, dengan menunjukkan kebanggaan, dukungan terhadap hal-hal positif yang anak lakukan, baik selama di sekolah atau di rumah. Memberikan kesempatan agar anak dapat bertanggung jawab atas keputusan yang ia pilih, serta menghargai perasaan dan semua pendapatnya.

Kelima melatih anak untuk tanggap dalam segala situasi. Biasakan anak untuk siap menghadapi segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan. Sehingga mereka bisa beradaptasi dengan segala macam rasa sedih, kecewa, dan belajar menerimanya dengan rasa ikhlas.

Keenam ajak anak bermain dan biarkan mereka mengekpresikan apa yang dirasakan.
Bagi anak-anak, bermain menjadi aktivitas yang paling menyenangkan. 
Waktu bermain membantu anak-anak menjadi lebih kreatif, belajar keterampilan baru dalam memecahkan masalah dan belajar untuk mengendalikan diri. 

Permainan yang baik dan dan sesuai usianya akan membantu anak-anak menjadi sehat secara fisik dan mental.
Mereka juga perlu memiliki waktu bersama dengan teman sebayanya. Bermain dengan orang lain akan membuat anak mampu menemukan kelebihan dan kelemahan mereka, mengembangkan rasa memiliki dan melatih empati.

Orang tua perlu memberikan kesempatan pada anak
untuk mengeksplorasi, mengembangkan keterampilan dan kemandirian baru. Memahamkan kepada anak bahwa perilaku tertentu tidak dapat diterima di dalam pergaulan, sehingga mereka bisa bertanggung jawab atas konsekuensi dari tindakan mereka.

Anak harus diupayakan tumbuh dengan pengalaman positif. Karena
jika anak tumbuh dengan pengalaman negatif, seperti menjadi korban kekerasan, bullying, maka risiko anak menderita gangguan kesehatan mental juga akan semakin besar. Hal ini dapat memengaruhi kemampuan anak dalam belajar, bahkan memunculkan rasa rendah diri.

Orang tua harus tanggap jika anak mengalami gejala gangguan kesehatan mental akibat masalah dari luar baik di sekolah maupun di lingkungan ketika berinteraksi dengan teman-temannya. Kita harus bisa mencari akar masalah jika anak ada perubahan perilaku, seperti menarik diri dari lingkungan, menghindari hal-hal yang sebelumnya mereka sukai, tantrum atau melakukan hal yang dapat menyakiti dirinya. Orang tua perlu merangkul anak dan berikan dukungan agar dapat melewati dan menyelesaikan masalahnya.

Ketika orang tua berhasil menanamkan akidah yang kuat, bisa membangun kedekatan dengan anak, maka mental health pada anak akan mampu diminimalisir. Sehingga mereka bisa tumbuh menjadi anak yang saleh, tangguh dan mandiri. Dengan begitu impian mewujudkan generasi emas pewaris peradaban akan mudah terwujud.

Wallahu a'lam bishawab

Posting Komentar

0 Komentar